Analisis Kriteria Kelulusan PPG: Dominasi Akademis vs Rekognisi Pengalaman
1. Membedah Akar Ketimpangan Evaluasi PPG
┌─────────────────────────────────────────┐
│ DILEMA EVALUASI KELULUSAN PPG │
└────────────────────┬────────────────────┘
│
┌─────────────────────────────────┴─────────────────────────────────┐
▼ ▼
┌─────────────────────────┐ ┌─────────────────────────┐
│ DOMINASI TES AKADEMIS │ │ PENGABDIAN LAPANGAN │
│ (Ujian Pengetahuan/UP) │ │ (Kinerja Mengajar Nyata)│
└───────────┬─────────────┘ └───────────┬─────────────┘
│ │
▼ ▼
* Penilaian terfokus pada hafalan teori & soal HOTS kaku. * Jam terbang belasan tahun mengajar diisi interaksi emosional.
* Keahlian menjawab tes cepat (*test-taking skills*) mendominasi. * Kemampuan menghadapi karakter siswa nyata di kelas heterogen.
* Hambatan literasi digital/komputer bagi guru senior. * Adaptasi mengajarkan materi di tengah keterbatasan sarpras.
A. Bias Metode Evaluasi Berbasis Ujian Tulis
B. Lemahnya Mekanisme Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL)
Meskipun skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) telah diperkenalkan untuk mengakomodasi dokumen portofolio dan rekam jejak guru, bobot kelulusan akhirnya masih sangat ditentukan oleh ujian nasional tertulis. Pengalaman mengajar di daerah $3\text{T}$ (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) dengan segala kompleksitasnya tidak memiliki pembobotan yang cukup signifikan untuk menyelamatkan peserta dari kegagalan tes akademis.
2. Peta Perbandingan: Pendekatan Evaluasi Standar vs Evaluasi Holistik
| Indikator | Evaluasi Konvensional / Kaku (Saat Ini) | Evaluasi Holistik Berbasis Kinerja (Ideal) |
| Fokus Penilaian | Dominan pada skor Ujian Pengetahuan (UP) berbasis tes tertulis. | Keseimbangan proporsional antara pengetahuan, portofolio, & uji kinerja. |
| Penilaian Pengalaman | Berkas portofolio pengabdian hanya sebagai pelengkap administrasi. | Bobot penambahan nilai (credit point) berdasarkan masa kerja & wilayah tugas. |
| Bentuk Uji Kinerja | Rekaman video mengajar berdurasi pendek yang dinilai secara terpisah. | Observasi langsung (Peer Review & Supervisi Klinis) di sekolah asal. |
| Dampak Hasil | Guru berpengalaman gagal berkali-kali (retaker) karena kendala teknis tes. | Tingkat kelulusan mencerminkan kompetensi nyata di dalam ruang kelas. |
3. Empat Langkah Reformasi Kriteria Kelulusan PPG yang Berkeadilan
Untuk menjembatani jurang antara tuntutan standar akademis dan penghargaan atas pengalaman mengajar nyata, pemerintah bersama LPTK penyelenggara perlu menerapkan penataan berikut:
Kesimpulan
Sertifikasi guru tidak boleh sekadar menjadi ajang penyaringan akademis yang menyisihkan mereka yang telah berdarah-darah mengabdi di ruang kelas nyata.
Penguasaan teori akademis memang penting sebagai pijakan keilmuan, namun ketajaman empati, ketangguhan mental, dan keahlian mendidik yang terbentuk dari masa pengabdian bertahun-tahun adalah inti dari profesionalisme seorang guru. Evaluasi PPG yang adil dan holistik adalah evaluasi yang mampu menyeimbangkan antara kecerdasan akademis dan rekam jejak karya nyata di lapangan.
